Archive for April, 2009

Kondisi Pendidikan di SUMUT memperihatinkan…


Sampai kapan tetap begini, sementara guru-guru sudah banyak yang lulus sertifikasi….

Walau sudah memasuki usia ke-61, namun kondisi pendidikan di Sumut masih memprihatinkan, karena kebijakan dalam pendidikan itu sendiri tidak konsisten dalam memajukan dunia pendidikan tersebut.

“Memang kondisi pendidikan di Sumut saat ini masih memprihatinkan,” kata anggota dewan pendidikan Sumut, Prof Nur Ahmad Fadhil Lubis, tadi siang.

Menurut Ketua Komisi Monitoring dan Evaluasi (Monev) dewan pendidikan Sumut itu, ketertinggalan tersebut diantaranya, anggaran di Kabupaten/Kota di Sumut masih jauh tertinggal dengan daerah lain, para tenaga pendidik tidak diberi intensif serta peningkatan sarana dan prasarana pendidikan yang kurang merata.

Padahal, lanjut Fadhil menerangkan, pada zaman Belanda, Sumut dikenal sebagai sebuah daerah kebangkitan, dimana pada masa itu banyak kebangkitan-kebangkitan yang diprakarsai oleh Sumut, berupa kebangkitan media cetak, seperti munculnya harian Mimbar Umum dan Waspada, kebangkitan tokoh perjuangan serta sekolah-sekolah cukup dikenal.

Pada zaman perjuangan, Sumut tetap menjadi pusat perjuangan fisik dan intelektual dengan lahirnya sosok Adinegoro, Williem Iskandar dan lainnya, dikarenakan
dunia pendidikan Sumut saat itu cukup terkenal, apalagi tahun 1929 Al-Jamiatul Wasliyah mendirikan sekolah Alwasliyah, sehingga menjadikan Sumut semakin terkenal.

Namun predikat itu turun sejak masa Soekarno hingga masa reformasi dan otonomi daerah, karena daerah-daerah lain mulai bergerak berusaha maju. Sebenanya, otonomi daerah, tambah Fadhil, menguntungkan daerah dalam membangun sekaligus mengangkat dunia pendidikan ke jenjang yang lebih baik, namun Sumut yang dikelilingi areal perkebunan tidak mendapat kucuran dana dari hasil perkebunan itu, sebab semuanya lari ke pusat sehingga pendidikan Sumut menjadi stagnan.

“Dengan kondisi demikian, sekarang ini tidak ada lagi sekolah yang dapat menjadi andalan di Medan karena banyaknya orang Sumut eksodus belajar ke daerah lain,” ujarnya.

Sumber : Harian Waspada

Indakasi Kecurangan UAN ditemukan Pengawas

Setiap tahun UN dilaksanakan, setiap Tahun terjadi kecurangan…..aneh… peribahasa “terjatuh dalam lubang yang sama” sepertinya tidak bermakna apa-apa.

Pengawas Ujian Nasional (UN) dari perguruan tinggi menemukan adanya indikasi kecurangan dalam pelaksanaan ujian untuk tingkat SMA di Sumatera Utara, pada hari kedua yang mengujikan Bahasa Inggris.

Penanggungjawab pengawas UN di Sumut, Prof. Syawal Gultom Mpd, di Medan, tadi sore, mengatakan, indikasi kecurangan pada hari kedua itu ditemukan di salah satu lokal ujian di SMA Negeri Sumbul Kabupaten Dairi.

“Pengawas menemukan sebanyak 16 siswa peserta ujian membawa alat komunikasi berupa HP dan salah satu HP tersebut berisi kunci jawaban soal-soal UN,” katanya.

Awalnya, kata dia, pengawas curiga melihat salah seorang peserta ujian yang terlihat gelisah saat ujian sedang berlangsung. Karena curiga pengawas langsung menggeledah siswa tersebut dan menemukan HP yang diselipkan di pinggang.

“Akhirnya pengawas melanjutkan penggeledahan ke siswa-siswa yang lain dan menemukan sebanyak 15 HP lainnya yang dibawa siswa peserta ujian,” katanya.

Sebelum ujian berlangsung pengawas telah meminta kepada peserta untuk tidak membawa HP dan kalau ada yang sempat membawa harus diserahkan sementara ke petugas pengawas.

Tapi yang namanya manusia selalu berusaha mencari kelengahan-kelengahan petugas, berbagai cara dilakukan, salah satunya dengan menyelipkan dicelana bagian pinggang sebelah dalam.

“Kita tidak mungkin memeriksa sampai ke bagian dalamnya dan inilah yang membuat HP tersebut lolos dari pemeriksaan. Kita belum tahu apakah kunci-kunci jawaban yang terdapat di HP itu benar sesuai dengan soal yang diujikan atau tidak, jika memang benar ujiannya dapat dibatalkan,” katanya.

Ia mengatakan, saat ini kasus tersebut masih dalam penyidikan polisi terutama dari mana siswa tersebut menerima kunci jawaban itu. Kasus ini juga bisa menjadi pidana karena berkaitan dengan pembocoran naskah soal ujian yang merupakan rahasia negara.

“Kita lihat dulu hasil penyidikan polisi, kalau kunci jawaban yang diterima itu ternyata benar sesuai dengan soal yang diujikan, maka penyidikan dikembangkan kepada siapa orang yang membocorkannya,” katanya.

Pada kesempatan itu ia juga mengharapkan kepada pengawas ruangan untuk tetap berpegang teguh pada Prosedur Operasional Standar (POS), antara lain HP atau alat komunikasi apapun jenisnya tidak diperkenankan dibawa ke ruang kelas. Kepada pengawas ruangan untuk lebih ketat lagi mengawasi proses belangsungnya ujian demi menghindari adanya kecurangan-kecurangan lainnya saat berlangsungnya ujian.

Selain itu, siswa juga diminta untuk jangan cepat terpengaruh dengan sesorang yang menawarkan kunci jawaban, karena bisa saja itu hanya sebagai modus untuk mencari uang.

“Yang penting percaya dengan kemampuan diri sendiri, karena kemungkinan adanya kebocoran soal sangat kecil berhubung pengawasan sangat ketat dengan melibatkan pihak kepolisian mulai dari percetakan hingga pendistribusian soal,” katanya.

Sumber : Harian Waspada

Angin Kencang dan Hujan Lebat merusakkan Bangunan Sekolah

Hujan deras dan angin kencang, Senin (20/4) malam, memporakporandakan bangunan di Rantauprapat. Salah satu bangunan yang paling parah kerusakannya, STM Pemda dan SMP Negeri 1 Rantau Selatan, Kabupaten Labuhanbatu.
Kepala Sekolah STM Pemda Drs Waluyo kepada wartawan, Selasa (21/4), mengatakan, 4 ruang kelas yang dijadikan ruangan ujian nasional (UN), rusak dihantam angin dan hujan lebat hari Senin malam. Terpaksa malam itu juga perlengkapan dipindahkan ke ruangan kelas lain supaya murid peserta UN bisa mengikuti ujian, Selasa pagi.
“Malam itu juga terpaksa buru-buru menyusun bangku sekolah agar hari Selasa pagi para siswa siswi peserta ujian tidak terganggu,” paparnya.
Gedung STM Pemda yang dibangun tahun 1971 itu merupakan salah satu bangunan sekolah yang didesain sedemikian rupa memakai kayu, namun 4 ruangan kelas rusak cukup parah akibat hujan lebat dan angin kencang. Rangka atap dan dudukan kuda-kuda kerangka bangunan serta sengnya terbang sejauh 8 meter.
“Kalau menilik bangunan model sekarang, saya bisa pastikan kerangka atap dan sengnya bakal terbang semua,” ujarnya.
Sekolah yang berdekatan dengan STM Pemda, SMPN 1 Rantau Selatan juga mengalami kerusakan. Puluhan seng secara sporadis terbang dan mematahkan sebagian kayu peyanggah seng.
Menurut Kasek Drs Sanuddin Desky, sekolah yang dibinanya mengalami kerusakan satu ruangan kelas dan satu ruangan guru.
“Kami sudah kordinasi dengan kepala sekolah STM Pemda untuk membuat laporan ke Dinas Pendidikan Pemkab Labuhanbatu dan sekaligus berharap ada perhatian dari dinas sehingga bangunan yang rusak bisa diperbaiki,” ujarnya.

Sumber : hariansib

Naif….Siswa lebih Hapal Lagu ST12 daripada Lagu Nasional…..

Deras dan gencarnya arus siaran hiburan lewat media teve maupun radio bisa dikatakan salah satu sebab anak remaja lebih doyan mengonsumsi lagu-lagu pop lokal maupun luar ketimbang lagu nasional.

Bila dipilih dua di antara satu, dapat dipastikan pelajar sekarang lebih jago mendendangkan ‘Saat Terakhir’nya ST 12 dibandingkan ‘Rayuan Pulau Kelapa’. Kondisi ini memilukan hati karena lagu nasional menjadi tersisihkan (tereleminir) lagu pop.

Nada yang Monoton

Ragamnya pilihan lagu pop, baik dalam negeri maupun luar negeri serta monotonnya lagu nasional adalah penyebab banyak siswa kurang tertarik menyanyikan lagu-lagu nasional. Sebut saja, Yossi Riza Hidayati (11) siswi SD Pertiwi mengaku lebih menyenangi lagu-lagu barat ketimbang lagu nasional.

“Belajar lagu nasional itu penting, tapi saya lebih suka menyanyikan lagu-lagu pop barat,” aku siswi yang juga jago melukis ini.

Sedangkan Andi DJ (16), siswa SMK 9 Medan, menganggap lagu-lagu nasional adalah lagu yang memiliki syair bagus. “Lagu nasional itu menggambarkan kenyataan,” ungkapnya. Namun Andi tak menyangkal bahwa nada-nada dari lagu nasional itu cenderung monoton. Kondisi ini mungkin yang membuat para siswa enggan mengingatnya dengan baik.

Kecenderungan minimnya minat siswa terhadap lagu-lagu nasional itu mengakibatkan mereka kurang atau pun tidak hafal akan lagu-lagu yang kental dengan nuansa kebangsaan tersebut.

Seperti yang terjadi pada peringatan Hari Anak Nasional Sumatera Utara akhir Juli 2008 lalu dengan tema ‘Saya Anak Indonesia Sejati, Sehat, Mandiri dan Kreatif’, yang dihadiri Gubernur Sumatera Utara Syamsul Arifin SE di Citra Garden Medan.

Dengan disaksikan para Kepala Dinas Pendidikan, Kasdam I/BB, Wakapoldasu, Muspida Kota Medan dan undangan lainnya, Gubsu meminta ribuan siswa yang hadir dalam perhelatan tersebut untuk menyanyikan satu dari 10 lagu wajib nasional.

Sayangnya permintaan itu tidak mendapat respons dari ribuan siswa. Meskipun Gubsu sudah mengimingi akan memberi hadiah bagi siswa yang bisa hafal menyanyikan lagu nasional dari Barat sampai ke Timur. Namun tetap saja tak ada yang bisa menyanyikannya.

Hal yang sama juga terjadi baru-baru ini saat Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) Erman Suparno berkunjung ke kampus Universitas Pancabudi Jalan Gatot Subroto Medan, untuk menyaksikan pelantikan pengurus Dewan Kesehatan dan Keselamatan Kerja di lingkungan perguruan itu Maret 2009 kemarin.

Karena nyanyiannya yang berjudul ‘Tanah Air’ tidak diiringi para mahasiswa, Erman Suparno terpaksa mengulang lagu itu kembali yang diikuti sejumlah mahasiswa dengan lirik lagu yang tidak hafal seluruhnya.

Kurang Diberdayakan di Sekolah

Khansa Khalisah (13) siswi SMP Negeri 16 Medan mengatakan meski sebagian lagu nasional membuat ngantuk tapi banyak juga yang menyentuh hati, baik syair atau pun melodinya. Tapi sayang Khansa menilai sekolah kurang memberdayakan lagu-lagu nasional. Hanya pada waktu-waktu tertentu saja lagu-lagu tersebut didengungkan.

“Kalau di sekolah sering dipelajari dan dinyanyikan mungkin siswa akan lebih berminat,” terang penduduk Jalan Beringin ini.

Diakui Khansa, pelajaran Seni Musik di sekolahnya lebih ditekankan pada penguasaan alat musik, lagu daerah dan olah vokal. Untuk pembelajaran lagu nasional sendiri dikatakan Khansa jarang. “Waktu upacara, kami nyanyi Indonesia Raya dan Hening Cipta,” tambahnya.

Selain upacara, momen menyanyikan lagu nasional lebih kepada masa-masa menjelang ujian mata pelajaran Seni Musik. “Ujian mata pelajaran seni musik yang biasa diujikan ya lagu-lagu nasional,” ucapnya lagi.

Metode Belajar Lebih Menarik

Hany Sihotang (29) guru Seni Musik di SD Methodist 12 Medan mengatakan amat penting mempelajari lagu-lagu nasional. “Lagu-lagu tersebut tidak asal jadi, tetapi ada sejarah di balik pembuatan lagu tersebut,” papar guru yang biasa dipanggil Neny ini.

Sayangnya diakui Neny, banyak remaja yang kurang berminat untuk menyanyikan lagu-lagu nasional. Antara lain karena tingkat kesulitan membuat remaja enggan menyanyikannya. Juga syairnya yang membuat jenuh.
Namun demikian disebutkan Neny, bila metode belajarnya menyenangkan akan diminati siswa. Tentunya ini tak lepas dari peran guru bagaimana membuat siswa tidak ’suntuk’ mempelajari mata pelajaran Seni Musik. “Belajar tanpa paksaan dan juga tanpa kekerasan,” paparnya.

Membangun Nasionalisme Lewat Lagu Nasional

Kepala Dinas Pendidikan Medan Drs. Hasan Basri MM menilai pentingnya mempelajari lagu nasional. Apalagi di zaman sekarang. Di tengah arus modernisasi dan globalisasi. “Mempelajari dan menyanyikan lagu nasional adalah salah satu cara membangun nasionalisme,” paparnya.

Untuk itu pihaknya sudah mengimbau sekolah-sekolah untuk mewajibkan lagu-lagu nasional dalam pelajaran di sekolah.

Selain menjadikannya menu wajib bagi pelajaran di sekolah, kata Hasan patut juga diperhatikan adalah metode penyampaiannya guna meningkatkan gairah belajar siswa. Perlu ada diklat-diklat dan contoh-contoh pembelajaran yang lebih beragam.

Menanggapi minimnya minat siswa terhadap lagu nasional, Hasan mengatakan perlu diadakan survei khusus untuk bisa mengetahui sejauh mana minat siswa terhadap lagu nasional.

Tidak Ada Kewajiban

Peristiwa yang membuat kesal Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) Erman Suparno saat berkunjung ke kampus Universitas Pancabudi Jalan Gatot Subroto Medan karena lagu nasional yang dipimpinnya tidak mampu diiringi para mahasiswa, menurut Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) Wilayah Sumut H Bahdin Nur Tanjung SE MM hendaknya menjadi “peringatan” bagi perguruan tinggi lainnya untuk mengimbau para mahasiswa memahami dan mencintai lagu nasional.

Bahdin yang juga Rektor UMSU ini mengaku ketidakpahaman para mahasiswa terhadap lagu nasional itu karena di perguruan tinggi tidak ada kewajiban menghafal lagu nasional. Namun sebagai mahasiswa dan generasi penerus bangsa, hendaknya lembaga pendidikan tinggi itu juga menerapkan kebiasaan para mahasiswa agar mengingat lagu nasional.

Menurut Bahdin, metode yang diterapkan tidak seperti siswa di sekolah, melainkan pemberian tugas memaknai arti lagu-lagu nasional dalam bentuk laporan pada mata kuliah kewiraan.

Sementara itu bagi Yanti (21) mahasiswi Fisipol Universitas Sumatera Utara, sudah tidak eranya lagi hafal lagu nasional. “Wajarlah jika kami lupa lagu-lagu nasional, karena selain memang tidak dipelajari di perguruan tinggi juga disibuki dengan tugas-tugas dari dosen. Jadi tidak sempat lagi kami untuk menghafalnya,” ujar Yanti.


Sumber : Harian Global

Nasib Lagu Nasional

Deras dan gencarnya arus siaran hiburan lewat media teve maupun radio bisa dikatakan salah satu sebab anak remaja lebih doyan mengonsumsi lagu-lagu pop lokal maupun luar ketimbang lagu nasional.

Bila dipilih dua di antara satu, dapat dipastikan pelajar sekarang lebih jago mendendangkan ‘Saat Terakhir’nya ST 12 dibandingkan ‘Rayuan Pulau Kelapa’. Kondisi ini memilukan hati karena lagu nasional menjadi tersisihkan (tereleminir) lagu pop.

Nada yang Monoton

Ragamnya pilihan lagu pop, baik dalam negeri maupun luar negeri serta monotonnya lagu nasional adalah penyebab banyak siswa kurang tertarik menyanyikan lagu-lagu nasional. Sebut saja, Yossi Riza Hidayati (11) siswi SD Pertiwi mengaku lebih menyenangi lagu-lagu barat ketimbang lagu nasional.

“Belajar lagu nasional itu penting, tapi saya lebih suka menyanyikan lagu-lagu pop barat,” aku siswi yang juga jago melukis ini.

Sedangkan Andi DJ (16), siswa SMK 9 Medan, menganggap lagu-lagu nasional adalah lagu yang memiliki syair bagus. “Lagu nasional itu menggambarkan kenyataan,” ungkapnya. Namun Andi tak menyangkal bahwa nada-nada dari lagu nasional itu cenderung monoton. Kondisi ini mungkin yang membuat para siswa enggan mengingatnya dengan baik.

Kecenderungan minimnya minat siswa terhadap lagu-lagu nasional itu mengakibatkan mereka kurang atau pun tidak hafal akan lagu-lagu yang kental dengan nuansa kebangsaan tersebut.

Seperti yang terjadi pada peringatan Hari Anak Nasional Sumatera Utara akhir Juli 2008 lalu dengan tema ‘Saya Anak Indonesia Sejati, Sehat, Mandiri dan Kreatif’, yang dihadiri Gubernur Sumatera Utara Syamsul Arifin SE di Citra Garden Medan.

Dengan disaksikan para Kepala Dinas Pendidikan, Kasdam I/BB, Wakapoldasu, Muspida Kota Medan dan undangan lainnya, Gubsu meminta ribuan siswa yang hadir dalam perhelatan tersebut untuk menyanyikan satu dari 10 lagu wajib nasional.

Sayangnya permintaan itu tidak mendapat respons dari ribuan siswa. Meskipun Gubsu sudah mengimingi akan memberi hadiah bagi siswa yang bisa hafal menyanyikan lagu nasional dari Barat sampai ke Timur. Namun tetap saja tak ada yang bisa menyanyikannya.

Hal yang sama juga terjadi baru-baru ini saat Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) Erman Suparno berkunjung ke kampus Universitas Pancabudi Jalan Gatot Subroto Medan, untuk menyaksikan pelantikan pengurus Dewan Kesehatan dan Keselamatan Kerja di lingkungan perguruan itu Maret 2009 kemarin.

Karena nyanyiannya yang berjudul ‘Tanah Air’ tidak diiringi para mahasiswa, Erman Suparno terpaksa mengulang lagu itu kembali yang diikuti sejumlah mahasiswa dengan lirik lagu yang tidak hafal seluruhnya.

Kurang Diberdayakan di Sekolah

Khansa Khalisah (13) siswi SMP Negeri 16 Medan mengatakan meski sebagian lagu nasional membuat ngantuk tapi banyak juga yang menyentuh hati, baik syair atau pun melodinya. Tapi sayang Khansa menilai sekolah kurang memberdayakan lagu-lagu nasional. Hanya pada waktu-waktu tertentu saja lagu-lagu tersebut didengungkan.

“Kalau di sekolah sering dipelajari dan dinyanyikan mungkin siswa akan lebih berminat,” terang penduduk Jalan Beringin ini.

Diakui Khansa, pelajaran Seni Musik di sekolahnya lebih ditekankan pada penguasaan alat musik, lagu daerah dan olah vokal. Untuk pembelajaran lagu nasional sendiri dikatakan Khansa jarang. “Waktu upacara, kami nyanyi Indonesia Raya dan Hening Cipta,” tambahnya.

Selain upacara, momen menyanyikan lagu nasional lebih kepada masa-masa menjelang ujian mata pelajaran Seni Musik. “Ujian mata pelajaran seni musik yang biasa diujikan ya lagu-lagu nasional,” ucapnya lagi.

Metode Belajar Lebih Menarik

Hany Sihotang (29) guru Seni Musik di SD Methodist 12 Medan mengatakan amat penting mempelajari lagu-lagu nasional. “Lagu-lagu tersebut tidak asal jadi, tetapi ada sejarah di balik pembuatan lagu tersebut,” papar guru yang biasa dipanggil Neny ini.

Sayangnya diakui Neny, banyak remaja yang kurang berminat untuk menyanyikan lagu-lagu nasional. Antara lain karena tingkat kesulitan membuat remaja enggan menyanyikannya. Juga syairnya yang membuat jenuh.
Namun demikian disebutkan Neny, bila metode belajarnya menyenangkan akan diminati siswa. Tentunya ini tak lepas dari peran guru bagaimana membuat siswa tidak ’suntuk’ mempelajari mata pelajaran Seni Musik. “Belajar tanpa paksaan dan juga tanpa kekerasan,” paparnya.

Membangun Nasionalisme Lewat Lagu Nasional

Kepala Dinas Pendidikan Medan Drs. Hasan Basri MM menilai pentingnya mempelajari lagu nasional. Apalagi di zaman sekarang. Di tengah arus modernisasi dan globalisasi. “Mempelajari dan menyanyikan lagu nasional adalah salah satu cara membangun nasionalisme,” paparnya.

Untuk itu pihaknya sudah mengimbau sekolah-sekolah untuk mewajibkan lagu-lagu nasional dalam pelajaran di sekolah.

Selain menjadikannya menu wajib bagi pelajaran di sekolah, kata Hasan patut juga diperhatikan adalah metode penyampaiannya guna meningkatkan gairah belajar siswa. Perlu ada diklat-diklat dan contoh-contoh pembelajaran yang lebih beragam.

Menanggapi minimnya minat siswa terhadap lagu nasional, Hasan mengatakan perlu diadakan survei khusus untuk bisa mengetahui sejauh mana minat siswa terhadap lagu nasional.

Tidak Ada Kewajiban

Peristiwa yang membuat kesal Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) Erman Suparno saat berkunjung ke kampus Universitas Pancabudi Jalan Gatot Subroto Medan karena lagu nasional yang dipimpinnya tidak mampu diiringi para mahasiswa, menurut Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) Wilayah Sumut H Bahdin Nur Tanjung SE MM hendaknya menjadi “peringatan” bagi perguruan tinggi lainnya untuk mengimbau para mahasiswa memahami dan mencintai lagu nasional.

Bahdin yang juga Rektor UMSU ini mengaku ketidakpahaman para mahasiswa terhadap lagu nasional itu karena di perguruan tinggi tidak ada kewajiban menghafal lagu nasional. Namun sebagai mahasiswa dan generasi penerus bangsa, hendaknya lembaga pendidikan tinggi itu juga menerapkan kebiasaan para mahasiswa agar mengingat lagu nasional.

Menurut Bahdin, metode yang diterapkan tidak seperti siswa di sekolah, melainkan pemberian tugas memaknai arti lagu-lagu nasional dalam bentuk laporan pada mata kuliah kewiraan.

Sementara itu bagi Yanti (21) mahasiswi Fisipol Universitas Sumatera Utara, sudah tidak eranya lagi hafal lagu nasional. “Wajarlah jika kami lupa lagu-lagu nasional, karena selain memang tidak dipelajari di perguruan tinggi juga disibuki dengan tugas-tugas dari dosen. Jadi tidak sempat lagi kami untuk menghafalnya,” ujar Yanti.