Archive for October, 2008

Operasi Kasih Sayang Polsek Bilah Hilir Patut Diacungi Jempol

Polisi Sektor (Polsek) Bilah Hilir Resort Labuhanbatu menjaring 61 siswa SMUN 1 Bilah Hilir terdiri dari 9 laki-laki dan 52 perempuan, dalam rangka pelaksanaan Operasi Kasih Sayang di wilayah itu.
Demikian Kapolsek Bilah Hilir Iptu.TR.Nababan didampingi Kanit Reskrim Aiptu Rustam Efendi Sagala, mengatakan hal itu menjawab SIB di ruangan kantor Kepala Sekolah SMUN 1 Bilah Hilir Juragan SPd, Selasa, (28/10)
Operasi Kasih Sayang yang digelar saat ini, kata Nababan, sebelumnya sudah ada kerja sama antara Dinas Pendidikan dan Polsek di wilayah ini, bertujuan mengambil langkah-langkah preventif guna menekan angka kenakalan remaja khususnya di daerah ini, disamping itu juga, termasuk adanya laporan dari para orang tua siswa terkait masalah gambar porno, VCD porno dan senjata tajam.
Dari operasi Kasih Sayang yang dilakukan hingga ke dalam kelas, Polisi menyita 61 handphone milik para siswa yang diduga di dalamnya berisi gambar-gambar porno.
Kapolsek Bilah Hilir Iptu.TR.Nababan dalam pengarahannya di hadapan siswa ketika dibariskan di halaman sekolah, yang juga didampingi kepala sekolah beserta guru-guru mengharapkan agar siswa menyadari perbuatannya yakni menyimpan gambar-gambar porno di dalam handphone adalah suatu perbuatan yang tidak pantas dilakukan seorang pelajar.
“Berangkat dari rumah ke sekolah untuk menuntut ilmu, bukan untuk yang lain-lain,” tegas Nababan mantan Kanit P3 D Polres Labuhanbatu itu.
Dikatakannya, siswa diharapkan tidak membawa HP ke sekolah maupun ke dalam kelas, karena hal itu dapat mengganggu kegiatan belajar mengajar. Hal ini juga perlu dilakukan, mengingat prinsip penghematan di sektor ekonomi keluarga mengingat situasi krisis global yang sedang merebak hingga ke level paling bawah.
“Orang tua siswa akan diundang oleh pihak sekolah untuk memberitahukan kelakuan anaknya, sehingga maju mundurnya prestasi anak bukan hanya merupakan tanggung-jawab guru dan sekolah tetapi dituntut peran serta orang tua yang lebih maksimal,” tegasnya.
Kepala Sekolah SMUN 1 Bilah Hilir Juragan S.Pd, kepada anak didiknya berharap dapat memahami pengarahan polisi yang sedang melakukan pembinaan kepada siswa /remaja sekaligus juga dapat menekan pengeluaran siswa untuk membeli keperluan pulsa.
“Penyelesaian permasalahan ini diserahkan kembali kepada pihak sekolah, namun tetap dalam pantauan kita, suatu ketika akan dilakukan sweeping,” kata Nababan.

Sumber : http://hariansib.com/2008/10/31/polsek-sita-61-hp-berisi-gambar-porno-milik-siswa- sman-i-bilah-hilir-labuhanbatu/

Nah…..Sekarang kita tunggu operasi-operasi selanjutnya setiap Polsek yang ada di Kab. Labuhanbatu……syukur-syukur Polres nya sekalian….

Situs Porno bisa dicegah dengan Bantuan Sekolah

Juru Bicara Departemen Pendidikan Nasional Bambang Wasito Adi menyatakan keberadaan situs porno di jaringan internet sekolah tidak bisa diberantas tanpa bantuan sekolah. “Internet itu jalan tol, tergantung orangnya mau pakai untuk apa,” katanya.

Ia menambahkan guru sebagai bagian integral dari pendidikan harus bersama sama mengawasi siswa saat pelajaran yang menggunakan fasilitas internet dilakukan. “Situs memang bisa diblok, namun ia bisa beregenerasi menjadi situs lainnya,” kata Bambang.

Sebenarnya, lanjut dia, siswa yang membuka situs porno di sekolah akan mudah ketahuan. “Di sekolah praktek seperti itu mungkin hanya sedikit, kebanyakan dari mereka membuka situs di warnet,” ujarnya. Namun bkan tidak mungkin siswa berani mencoba di sekolah, “untuk itu perlu peran aktif dari guru,” tegasnya.

Meski situs porno membayangi jaringan pendidikan nasional, lanjutnya, pemerintah akan tetap menyambung jaringan ini ke seluruh sekolah yang ada. “Situs porno hanya ekses, harus kita bendung sama-sama. Internet di sekolah merupakan kebutuhan pendidikan, tanpa itu kita ketinggalan,” katanya.

Sebelumnya, Pakar telematika, Roy Suryo, mengatakan jaringan pendidikan nasional dapat memproteksi akses para pelajar ke situs porno. Hal itu dimungkinkan karena program jaringan pendidikan nasional menggunakan jaringan resmi. Proteksi terhadap situs-situs porno, dia melanjutkan, juga bisa dilakukan oleh para pengelola jaringan. Dalam hal ini sekolah harus dibekali pengetahuan untuk memproteksinya. Program untuk itu sudah banyak dan bisa diunduh.

Roy mengatakan saat ini ada sekitar 24,5 juta orang pengguna Internet. Menurut dia, rata-rata semua pengakses pernah mengunjungi situs porno. “Mungkin tidak konstan, tapi pasti pernah mengunjungi,” katanya.

Departemen Pendidikan Nasional mencanangkan program jaringan pendidikan nasional untuk sekolah-sekolah. Sebanyak 212 sekolah di seluruh Indonesia akan memiliki akses ke jaringan pendidikan nasional. Program tersebut diwarnai kekhawatiran tentang kemungkinan siswa bisa mengakses situs porno.

Peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Romi Satria Wahono, mengatakan keberadaan situs porno tidak bisa dihambat. Saat ini ada lebih dari 1,3 miliar halaman situs porno dalam jaringan Internet. Kontribusi dari situs porno tersebut mencapai 18 miliar dolar per tahun, ujarnya dalam diskusi bertema “Siapkah Sekolah Menerima Internet?” pada Kamis lalu.

Bisnis pornografi, ia melanjutkan, mencapai angka 80 persen dari seluruh bisnis yang ada. Sebanyak 60 persen dari 1 miliar pengguna Internet dunia membuka situs porno saat terkoneksi dengan jaringan. Dalam setahun bahkan ada 600 film porno baru yang diproduksi.

Kalaupun ditutup, situs porno yang ada dalam jaringan bisa menggunakan identitas lain untuk situsnya. Tinggal menambah angka 1 atau 2 di belakangnya dan situs bisa dioperasikan lagi.

Romy menjelaskan, seks atau pornografi adalah topik yang paling banyak dicari di jaringan Internet. Selain membuat situs khusus pornografi, pembuat situs terkadang meniru situs badan, lembaga, atau ofisial tertentu dan mengganti content di dalamnya dengan mengganti domainnya saja.

Sumber : Koran Tempo

Pelajar Penggemar Situs Porno Meningkat Tajam…

INTERNET memang sudah dikenal, bahkan hingga ke pelosok perdesaan. Namun, para penggunanya tentu masih dalam jumlah terbatas karena tergantung akses telekomunikasi dan juga soal keekonomian serta dampaknya.

Nah, di Kota Kediri, Jawa Timur untuk segmen pelajar ternyata banyak yang gemar berburu situs porno melalui internet. Ini berdasarkan hasil survei.

Dari 100 pelajar yang memiliki kesempatan mengakses internet, 78 di antaranya mengaku sering membuka situs porno. Fenomena mengejutkan tersebut terungkap dalam survei yang dilakukan Komunitas Penggiat Teknologi Informasi Kediri (Kompetidi).

Penelitian ini dilakukan terhadap 100 responden dari kalangan pelajar yang berusia 13-17 tahun di Kota Kediri. Dari 78 pelajar yang membuka situs porno, 69 di antaranya sengaja mencari. Sedangkan sisanya karena sudah tersedia di komputer warnet.

“Jumlah responden kami memang tidak terlalu besar, tapi itu sudah cukup mewakili komunitas pelajar di Kota Kediri. Saya yakin jumlah penggemar situs porno ini jauh lebih besar dari hasil survei ini dan selalu meningkat setiap tahunnya,” ujar Ketua Kompetidi, Didik Subiantoro.

Menurut dia, ada beberapa faktor yang mempengaruhi tingginya jumlah pelajar yang berburu situs porno di warnet. Di antaranya adalah mudahnya mendapatkan akses internet melalui warnet dengan berbagai fasilitas yang diberikan.

Salah satu fasilitas yang justru kerap disalahgunakan pengguna internet adalah bilik tertutup. Dengan kondisi yang sangat pribadi, pelajar bisa dengan leluasa mengakses situs porno baik luar negeri maupun lokal.

Selain itu, penetapan tarif yang sangat murah oleh pengelola warnet menjadi daya dorong pelajar untuk sering menyewa. Sayangnya, kemudahan itu justru dimanfaatkan untuk berburu gambar-gambar porno.

“Kondisi inilah yang ditangkap dengan baik oleh sejumlah pihak untuk memanfaatkan pelajar yang masih belia. Di antaranya dengan membuat komunitas tertentu yang mengarah ke pornografi,” ujar Didik.

Salah satunya dengan memanfaatkan teknologi chatting yang khusus melayani hal-hal berbau porno. Beberapa orang bahkan menyediakan ruang khusus untuk “mojok” dan berkencan di dunia maya.

“Jadi percuma polisi melakukan razia VCD porno di pasaran. Cukup Rp 3.000 per jam untuk sewa warnet setiap pelajar bisa men-download film porno sebanyak-banyaknya,” terang Didik.

Karena itu, ia berusaha mensosialisasikan penggunaan software anti situs porno di setiap warnet. Nantinya setiap user di bawah umur yang membuka situs porno akan terhalang sistem itu secara otomatis.

Sayang, upaya ini menurut Didik juga terhalang sikap pemilik warnet yang enggan melakukan pembatasan. Sebab diakui atau tidak, pemasukan terbesar mereka karena penyediaan situs-situs porno tersebut.

Tak Bisa Dihilangkan
Sementara itu, peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Romi Satria Wahono mengatakan, keberadaan situs porno tidak bisa dihambat. Saat ini, ada lebih dari 1,3 miliar halaman situs porno yang ada dalam jaringan internet.

“Kontribusi dari situs porno tersebut mencapai 18 miliar dolar per tahun,” ujarnya dalam diskusi bertema “Siapkah Sekolah Menerima Internet” di Jakarta, kemarin.

Bisnis pornografi, ia melanjutkan, mencapai angka 80 persen dari seluruh bisnis yang ada. Sebanyak 60 persen dari satu miliar pengguna internet dunia membuka situs porno saat terkoneksi dengan jaringan. “Dalam setahun ada 600 film porno baru yang diproduksi,” kata Romi.

Kalaupun ditutup, situs porno yang ada dalam jaringan bisa menggunakan identitas lain untuk situsnya. “Tinggal menambah angka satu atau dua di belakangnya, dan situs bisa dioperasikan lagi,” ujarnya.

Sebenarnya……Siapkah Sekolah Menerima Internet ?

Tema diskusi menarik dalam seminar yang diadakan oleh Forum Teknologi Informasi untuk Pendidikan (FORTIP) di Hotel Atlet Century Senayan, tanggal 27 Desember 2007. Saya sendiri membawakan materi berjudul “Memikirkan Kembali Internet untuk Sekolah”. Diskusi saya buka dengan bagaimana perkembangan teknologi informasi dan pemanfaatan Internet di berbagai bidang. Dan di balik semua manfaat itu, ternyata dunia Internet juga membawa sisi dunia gelap dan cybercrime, diantaranya adalah pornografi, cracking activities, carding dan software piracy. Siapkah sekolah menerima semua manfaat dan mudharat Internet itu?

Menariknya, Indonesia dengan penetrasi Internet yang relatif rendah (8%), tapi memiliki nama yang terang benderang dalam dunia cybercrime :) Ini sebenarnya karena anak muda kita punya potensi yang bagus, tapi kurang adanya ajang untuk berkompetisi secara legal. Sedangkan pornografi sendiri bisa dicegah dengan tiga cara: hukum, teknologi dan socio-culture. Hukum dan teknologi relatif kurang efektif, dan boleh dikatakan bahwa pendekatan socio-culture, yaitu dengan membuat sang anak sibuk di Internet dengan berbagai penugasan dan kegiatan kreatif adalah solusi terbaik.

Bagaimanapun juga, menurut saya Internet masuk sekolah adalah program yang harus didukung oleh seluruh komponen bangsa. Karena Internet memiliki manfaat yang besar dalam pembentukan SDM generasi muda kita, yaitu:

  • Membuka mata dan wawasan ke dunia luas
  • Membentuk generasi yang kreatif, produktif dan mandiri
  • Sumber ilmu pengetahuan tanpa batas
  • Membantu mempermudah kegiatan belajar mengajar di sekolah dengan berbagai otomasi dan sistem informasi

Adanya kesalahan pandang bahwa Internet masuk sekolah hanya membawa arti di bawah, harus segera diluruskan.

  • Internet masuk sekolah = koneksi Internet masuk sekolah
  • Internet = alat browsing, email dan chatting
  • Internet = alat lihat gambar dan video porno
  • Internet = tempat siswa mencari berbagai informasi secara bebas tanpa kontrol
  • Internet = menggantikan peran guru secara keseluruhan
  • Internet masuk sekolah = synchrounous learning

Syarat sekolah siap menerima Internet ketika pemahaman kita sudah sama bahwa Internet masuk sekolah berarti:

  • Komputer dan koneksi internet bisa dinikmati seluruh siswa dan guru
  • Konten pendidikan berbasis Internet bisa dinikmati seluruh siswa dan guru
  • Proses kegiatan sekolah bisa didukung dan diotomasi oleh Internet (sistem informasi)
  • Guru siap dengan konten pendidikan dan penugasan ke siswa sehingga siswa tidak terjebak ke konten negatif
  • Siswa dan guru harus sadar Internet bisa mencetak generasi kreatif , produktif, dan mandiri, tapi juga bisa mencetak generasi busuk tak bermoral

Ada keluhan bahwa kita kekurangan SDM dan infrastruktur? Bisa kita mulai dari kreatifitas dengan peralatan dan skill sederhana. Model pendidikan kreatifitas ala Jepang lewat kompetisi di acara TV “Masquerade” dan Singapore dengan eksebisi dan kompetisi pembuatan multimedia pembelajaran oleh siswa SD menjadi contoh yang baik pendidikan ke generasi muda. Sedangkan kita sendiri masih lebih menyukai kompetisi yang mengandalkan tampang dan menghamburkan uang lewat sms polling.

Mudah-mudahan masyarakat kita bisa segera sadar untuk “kembali ke jalan yang benar” membenahi otak kiri dan kanan generasi muda kita. Dan mulai meninggalkan kompetisi berhadiah besar yang berkutat di wilayah user interface (baca: pakaian indah, wajah cantik atau tampan) yang kadang semu. Ingat masih banyak anak muda kita yang meskipun bertampang “kutu kupret” tapi punya kreatifitas dan kecerdasan otak seperti Jerry Yang, Larry Page atau Sergrey Brin. Cuman kadang orang-orang seperti ini tidak bisa bersekolah tinggi karena kendala finansial. Ditambah lagi pasti gugur di babak awal kalau ikutan kompetisi masuk TV. Kalaupun ada yang bernasib baik menjadi pemenang Lomba Karya Ilmiah Remaja, hadiahnya biasanya impas dengan modal beli buku, tiket pesawat dan nraktir temen sekelas :)

Sumber : http://romisatriawahono.net/2007/12/31/siapkah-sekolah-menerima-internet/

Meluruskan Salah Kaprah Rekayasa Perangkat Lunak

classdiagram.jpgRekayasa Perangkat Lunak (Software Engineering), sedikit mengalami pergeseran makna di realita dunia industri, bisnis, pendidikan maupun kurikulum Teknologi Informasi (TI) di tanah air. Di industri, para tester, debugger dan programmer sering salah kaprah menyandang gelar Software Engineer. SMK di Indonesia juga latah dengan membuka jurusan Rekayasa Perangkat Lunak, meskipun secara kurikulum hanya mengajari bahasa C atau Pascal (mungkin lebih pas disebut jurusan pemrograman komputer) ;) Tulisan ini berusaha meluruskan salah kaprah yang terjadi tentang Rekayasa Perangkat Lunak (Software Engineering) berdasarkan kesepakatan, acuan, dan standard yang ada di dunia internasional.

Sejarah munculnya Rekayasa Perangkat Lunak sebenarnya dilatarbelakangi oleh adanya krisis perangkat lunak (software crisis) di era tahun 1960-an. Krisis perangkat lunak merupakan akibat langsung dari lahirnya komputer generasi ke 3 yang canggih, ditandai dengan penggunaan Integrated Circuit (IC) untuk komputer. Performansi hardware yang meningkat, membuat adanya kebutuhan untuk memproduksi perangkat lunak yang lebih baik. Akibatnya perangkat lunak yang dihasilkan menjadi menjadi beberapa kali lebih besar dan kompleks. Pendekatan informal yang digunakan pada waktu itu dalam pengembangan perangkat lunak, menjadi tidak cukup efektif (secara cost, waktu dan kualitas). Biaya hardware mulai jatuh dan biaya perangkat lunak menjadi naik cepat. Karena itulah muncul pemikiran untuk menggunakan pendekatan engineering yang lebih pasti, efektif, standard dan terukur dalam pengembangan perangkat lunak.

Dari berbagai literatur, kita dapat menyimpulkan bahwa Rekayasa Perangkat Lunak adalah:

Suatu disiplin ilmu yang membahas semua aspek produksi perangkat lunak, mulai dari tahap awal requirement capturing (analisa kebutuhan pengguna), specification (menentukan spesifikasi dari kebutuhan pengguna), desain, coding, testing sampai pemeliharaan sistem setelah digunakan.

Kalimat “seluruh aspek produksi perangkat lunak” membawa implikasi bahwa bahwa Rekayasa Perangkat Lunak tidak hanya berhubungan dengan masalah teknis pengembangan perangkat lunak tetapi juga kegiatan strategis seperti manajemen proyek perangkat lunak, penentuan metode dan proses pengembangan, serta aspek teoritis, yang kesemuanya untuk mendukung terjadinya produksi perangkat lunak.

Kemudian tidak boleh dilupakan bahwa secara definisi perangkat lunak tidak hanya untuk program komputer, tetapi juga termasuk dokumentasi dan konfigurasi data yang berhubungan yang diperlukan untuk membuat program beroperasi dengan benar. Dengan definisi ini otomatis keluaran (output) produksi perangkat lunak disamping program komputer juga dokumentasi lengkap berhubungan dengannya. Ini yang kadang kurang dipahami oleh pengembang, sehingga menganggap cukup memberikan program yang jalan (running program) ke pengguna (customer).

Rekayasa Perangkat Lunak bukan merupakan cabang ilmu Computer Science yang mempelajari tentang technical coding. Ini yang sering salah kaprah dipahami, sehingga pelajar, mahasiswa atau bahkan calon dosen ;) shock ketika dihadapkan dengan buku-buku textbook Rekayasa Perangkat Lunak yang selalu tebal dengan penjelasan sangat luas tentang bagaimana perangkat lunak diproduksi, dari aspek requirement capturing, desain, arsitektur, testing, kualitas software, sampai people/cost management. Dan ini adalah suatu kesepakatan yang sudah diterima umum tentang Rekayasa Perangkat Lunak, sejak jaman Roger S Pressman menulis buku “Software Engineering: A Practitioner’s Approach”, sampai Ian Sommerville yang kemudian datang dengan buku “Software Engineering” yang sudah sampai edisi ke 7, maupun pendatang baru semacam Hans Van Vliet, Shari Lawrence Pfleeger maupun James F Peters.

Terus bagaimana kalau kita ingin memperdalam masalah technical coding dan programming? Ada dua cabang ilmu lain yang membahas lebih dalam masalah ini, yaitu: Algoritma dan Struktur Data, dan Bahasa Pemrograman.

Kok bisa begitu, dasarnya darimana? Jadi pada hakekatnya, sebagai sebuah disiplin ilmu, Computer Science itu juga memiliki definisi, ruang lingkup, klasifikasi dan kategorisasinya. Klasifikasi yang paling terkenal dikeluarkan Task Force yang dibentuk oleh IEEE (Institute of Electrical and Electronics Engineers) dan ACM (Association for Computing Machinary (http://acm.org)) yang dipimpin oleh Peter J Denning, yang kemudian terkenal dengan sebutan Matriks Denning. Sangat jelas bahwa Matriks Denning memisahkan antara cabang ilmu Software Engineering dengan Algoritma dan Struktur Data, serta Bahasa Pemrograman. Itulah di paragraf awal saya sebut bahwa lebih tepat SMK, akademi atau universitas menggunakan nama jurusan (atau mata kuliah): Pemrograman Komputer, Algoritma dan Struktur Data, atau Bahasa Pemrograman, kalau memang materinya hanya mempelajari masalah bahasa pemrograman secara teknis.

Nah terus pertanyaan kembali muncul, jadi sebenarnya apa yang menjadi ruang lingkup ilmu Software Engineering itu apa? Pertanyaan ini merupakan pertanyaan banyak orang, semakin banyak peneliti dan praktisi menulis maka semakin bervariasi pemahaman yang muncul, semakin banyak buku yang terbit semakin membingungkan pelajar dan mahasiswa dalam memahami secara komprehensif apa itu Rekayasa Perangkat Lunak.

Kegelisahan ini dijawab tuntas oleh IEEE Computer Society (http://computer.org) dengan membentuk tim di tahun 1998 dimana tim tersebut mulai menyusun pemahaman standard (body of knowledge) tentang bidang ilmu Software Engineering, yang kemudian terkenal dengan sebutan SWEBOK (Software Engineering Body of Knowledge). Sudah ada dua versi SWEBOK ini, yaitu yang diterbitkan tahun 1999 dan terakhir tahun 2004.

Tiada gading yang tak retak kata orang bijak, project IEEE Computer Society tentang SWEBOK ini sebenarnya juga banyak dikritik oleh pakar yang lain. Paling tidak dua tokoh besar dunia Software Engineering yaitu Cem Kaner and Grady Booch tidak terlalu setuju dengan materi yang ada di dalam SWEBOK, bahkan menyebutnya sebagai sebuah guide yang misguided ;) Terlepas dari hal itu, boleh dikatakan SWEBOK cukup bisa diterima banyak pihak.

Selain SWEBOK, sebenarnya ada project lain yang mirip dalam usaha menyusun pemahaman standard dalam bidang Software Engineering, yaitu CCSE (Computing Curriculum Software Engineering). Project ini juga disponsori oleh IEEE Computer Society dan ACM , hanya orientasinya sedikit berbeda, yaitu untuk membentuk kurikulum standard berhubungan dengan bidang ilmu Software Engineering. Hal ini berbeda dengan orientasi SWEBOK yang lebih umum melingkupi dunia akademisi dan praktisi.

Sumber : Romi Satria Wahono